Gencatan Senjata Israel-Lebanon Gagal Bertahan, 47 Orang Tewas dalam 24 Jam
BEIRUT – Harapan perdamaian di perbatasan Israel-Lebanon kembali pupus setelah gencatan senjata yang diumumkan pada Jumat (19/6/2026) gagal bertahan bahkan dalam waktu 24 jam. Serangan udara dan drone Israel yang menghantam sejumlah wilayah di Lebanon selatan serta Lembah Bekaa menewaskan sedikitnya 47 orang dan melukai puluhan lainnya.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa korban tewas akibat serangan sejak Jumat dini hari mencapai 47 orang, termasuk tujuh perempuan dan dua anak-anak. Sebanyak 97 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Serangan paling mematikan terjadi di Harouf, Distrik Nabatieh, yang menewaskan sembilan orang termasuk tiga perempuan. Di wilayah al-Duweir, enam orang dilaporkan tewas, termasuk seorang anak dan seorang perempuan. Sementara itu, tujuh korban jiwa lainnya tercatat di Haboush.
Selain ketiga lokasi tersebut, serangan juga dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan lain seperti al-Sharqiyah, Kfarsir, dan beberapa wilayah di sekitar Nabatieh.
Gencatan Senjata Rapuh Sejak Awal
Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan melalui mediasi Amerika Serikat sebenarnya telah menghadapi berbagai tantangan sejak awal.
Hizbullah menolak sejumlah poin penting dalam proposal yang disusun Washington karena menilai ketentuan tersebut tidak memberikan jaminan penghentian operasi militer Israel secara menyeluruh.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem sebelumnya menegaskan bahwa tuntutan penghentian aktivitas kelompoknya tanpa penghentian serangan Israel merupakan syarat yang tidak dapat diterima.
Meski gencatan senjata resmi diumumkan berlaku pada Jumat sore waktu setempat, laporan dari lapangan menunjukkan aktivitas militer tidak pernah benar-benar berhenti.
Petugas penyelamat di Nabatieh melaporkan sedikitnya 12 serangan udara masih terjadi setelah gencatan senjata dinyatakan berlaku.
Israel dan Hizbullah Saling Menyalahkan
Pascagagalnya gencatan senjata, Israel dan Hizbullah saling melontarkan tuduhan pelanggaran kesepakatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Hizbullah melakukan pelanggaran terang-terangan melalui peluncuran roket ke wilayah Israel.
Menanggapi situasi tersebut, Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk memberikan respons keras terhadap setiap ancaman yang dianggap membahayakan keamanan negaranya.
Juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin menegaskan bahwa pasukan Israel akan terus melakukan operasi untuk menghilangkan ancaman yang muncul secara langsung terhadap warga sipil Israel.
Di sisi lain, Hizbullah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa Israel justru tidak pernah benar-benar mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang telah ada sejak November 2024.
Kelompok tersebut menuduh Israel terus melakukan serangan udara, penghancuran infrastruktur sipil, serta pelanggaran wilayah Lebanon secara berulang.
Ancam Kesepakatan AS-Iran
Meningkatnya kekerasan di Lebanon juga berpotensi menggagalkan berbagai upaya diplomatik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Konflik ini dinilai mengancam implementasi nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya bertujuan meredakan ketegangan regional.
Pemerintah Iran menuduh Washington gagal menekan Israel agar mematuhi kesepakatan yang telah dicapai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan menyebut tindakan Israel menunjukkan keinginan untuk mempertahankan konflik berkepanjangan di kawasan.
Sebagai respons, Iran dilaporkan menunda sejumlah agenda negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Harapan Baru di Washington
Di tengah meningkatnya kekerasan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tetap berupaya melanjutkan proses diplomasi.
Washington dijadwalkan menjadi tuan rumah perundingan lanjutan antara pemerintah Lebanon dan Israel pada 23 hingga 25 Juni 2026.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak berkomitmen terhadap gencatan senjata yang menyeluruh dan dapat diverifikasi.
Menurutnya, penghentian permusuhan merupakan syarat mutlak untuk membuka jalan menuju stabilitas kawasan yang lebih permanen.
Korban Terus Bertambah
Sejak konflik kembali meningkat pada 2 Maret 2026, jumlah korban tewas di Lebanon dilaporkan telah mencapai 3.980 orang. Lebih dari 12.000 lainnya mengalami luka-luka, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat perang.
Kegagalan gencatan senjata hanya sehari setelah diumumkan menunjukkan betapa rapuhnya upaya perdamaian yang tidak melibatkan seluruh pihak secara langsung.
Tanpa komitmen nyata dari Israel dan Hizbullah untuk menghentikan aksi militer, konflik diperkirakan masih akan terus berlanjut dan berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam krisis yang lebih luas.
