Delegasi Iran Walk Out dari Perundingan dengan AS di Swiss, Protes Ancaman Donald Trump

0
IMG-20260624-WA0027

BURGENSTOCK, SWISS – Upaya diplomatik untuk meredakan konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat diwarnai ketegangan serius setelah delegasi Iran memutuskan meninggalkan ruang perundingan atau walk out dalam putaran pertama negosiasi tingkat tinggi yang berlangsung di Burgenstock, Swiss, Minggu (21/6/2026).

Langkah dramatis tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran apabila Teheran gagal mengendalikan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya di kawasan Timur Tengah.

Insiden tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa perundingan yang dimediasi Pakistan dan Qatar akan berakhir tanpa hasil, bahkan sebelum pembahasan substantif dimulai.

Ancaman Trump Picu Ketegangan

Ketegangan meningkat setelah Trump menyampaikan peringatan keras melalui platform Truth Social terkait perkembangan situasi keamanan di Lebanon.

Dalam unggahannya, Trump menuntut Iran segera menghentikan aktivitas kelompok-kelompok yang dianggap sebagai proksi Teheran di Lebanon.

“Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras,” tulis Trump.

Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump juga mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait Selat Hormuz yang kembali ditutup oleh Iran.

“Jika mereka menutup Selat Hormuz, kalian tidak akan memiliki negara,” kata Trump.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman

Menurut media pemerintah Iran, Ghalibaf memutuskan meninggalkan ruang perundingan setelah menyampaikan protes langsung kepada Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang memimpin delegasi Washington.

Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menerima negosiasi yang disertai ancaman militer maupun tekanan politik.

“Saya mengatakan kepada Vance bahwa kami hadir untuk berunding berdasarkan kesepahaman yang telah ditandatangani. Klausul pertama menyatakan tidak boleh ada ancaman atau paksaan. Namun hari ini presiden Anda mengeluarkan ancaman. Pahami bahwa kami tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman atau tekanan,” tegas Ghalibaf.

Ia menambahkan bahwa delegasi Iran memilih mengakhiri kehadiran mereka dalam pertemuan tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap pendekatan yang dinilai bertentangan dengan semangat diplomasi.

Menurut pihak Iran, ancaman Trump merupakan pelanggaran langsung terhadap Pasal 1 Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru ditandatangani kedua negara, yang mewajibkan seluruh pihak menahan diri dari ancaman maupun tindakan koersif selama proses negosiasi berlangsung.

Sebelum meninggalkan lokasi, delegasi Iran juga dilaporkan menolak mengikuti sesi foto bersama dengan delegasi Amerika Serikat yang disebut sebagai “pertunjukan media” dan tidak mencerminkan substansi perundingan.

Peringatan Keras dari Teheran

Usai meninggalkan perundingan, Ghalibaf kembali menyampaikan pesan tegas melalui akun resminya di platform X.

“Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kami siap merespons. Apa pun yang mereka katakan, kami akan mengambil tindakan,” tulisnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun jalur diplomasi masih dibuka, ketegangan militer antara kedua negara tetap berada pada level yang tinggi.

Versi Berbeda dari Washington

Di sisi lain, seorang diplomat Amerika Serikat yang terlibat dalam perundingan memberikan gambaran berbeda mengenai insiden tersebut.

Dalam keterangannya kepada Reuters, diplomat tersebut menyatakan bahwa delegasi Iran tidak benar-benar meninggalkan proses negosiasi.

“Orang Iran tidak pernah pergi dan masih berada di sini untuk bertemu dan bernegosiasi hingga larut malam,” katanya.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan laporan media Iran yang menyebut delegasi Teheran secara resmi telah keluar dari ruang perundingan sebagai bentuk protes politik terhadap Washington.

Perbedaan versi tersebut menunjukkan adanya narasi yang saling bertentangan mengenai jalannya perundingan dan kondisi sebenarnya di balik layar diplomasi kedua negara.

Mediasi Qatar dan Pakistan Selamatkan Perundingan

Meski sempat mengalami kebuntuan, mediator dari Pakistan dan Qatar berhasil mencegah gagalnya proses diplomasi secara total.

Menurut sejumlah sumber diplomatik, Washington sempat mengajukan permintaan pertemuan lanjutan secara langsung, namun ditolak oleh pihak Iran.

Sebagai kompromi, Teheran bersedia melanjutkan komunikasi melalui mediator tanpa melakukan kontak langsung dengan delegasi Amerika Serikat.

Sumber yang dekat dengan tim perunding Iran menyebut pembicaraan untuk sementara ditangguhkan guna memberi kesempatan kepada masing-masing pihak melakukan konsultasi internal sebelum memasuki tahap berikutnya.

Program Nuklir Belum Dibahas

Media Iran melaporkan bahwa perundingan yang berlangsung sekitar 80 menit tersebut belum menyentuh isu program nuklir, melainkan hanya berfokus pada implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati sebelumnya serta perkembangan konflik di Lebanon.

Teheran juga menegaskan bahwa pembahasan mengenai program nuklir baru dapat dilakukan apabila seluruh kesepakatan awal benar-benar dijalankan oleh Amerika Serikat.

Sementara itu, situasi di lapangan masih dibayangi ketegangan setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon yang memicu eskalasi baru di kawasan.

Meski demikian, para mediator menyatakan optimistis bahwa jalur diplomasi masih terbuka dan pembicaraan teknis tingkat lanjut diperkirakan akan kembali dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang.

Insiden walk out ini menjadi pengingat bahwa meskipun kedua negara telah membuka kembali jalur komunikasi setelah berbulan-bulan konflik, jalan menuju kesepakatan damai permanen masih dipenuhi ketidakpercayaan, tekanan politik, dan ancaman keamanan yang dapat menggagalkan proses kapan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *