Kapal Tanker Mulai Kembali Berlayar di Selat Hormuz, Meski Iran Ancam Tutup Lagi
Teluk Persia – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah Amerika Serikat mencabut blokade laut terhadap Iran sebagai bagian dari implementasi kesepakatan perdamaian sementara yang dicapai kedua negara. Namun, jalur perdagangan energi paling strategis di dunia itu masih dibayangi ketidakpastian akibat ancaman Iran untuk kembali menutup selat tersebut.
Selat Hormuz merupakan koridor vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling penting dalam rantai pasok energi internasional.
Data pelayaran menunjukkan bahwa lalu lintas kapal mulai meningkat sejak beberapa hari setelah penandatanganan nota kesepahaman 14 poin antara Presiden Amerika Serikat, , dan Presiden Iran, .
Pada 18 Juni 2026, sedikitnya 25 kapal komersial tercatat melintasi Selat Hormuz. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir dan menunjukkan adanya kepercayaan awal dari pelaku industri pelayaran terhadap membaiknya situasi keamanan di kawasan.
Di antara kapal yang melintas terdapat tiga supertanker berbendera Arab Saudi yang mengangkut sekitar enam juta barel minyak mentah. Kehadiran kapal-kapal tersebut menjadi simbol penting pemulihan aktivitas perdagangan energi karena merupakan pelayaran pertama kapal tanker Saudi melalui Selat Hormuz sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada Februari 2026.
Meski demikian, volume lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik berlangsung. Sebelum ketegangan meningkat, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari, termasuk puluhan kapal tanker minyak berkapasitas besar.
Para analis maritim memperkirakan proses normalisasi jalur pelayaran akan membutuhkan waktu berbulan-bulan mengingat masih tingginya risiko keamanan dan ketidakpastian geopolitik di kawasan.
Ancaman Baru dari Iran
Optimisme pasar kembali terguncang setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan ancaman penutupan kembali Selat Hormuz pada akhir pekan.
Langkah tersebut disebut sebagai respons terhadap operasi militer Israel di Lebanon selatan yang oleh Teheran dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Meski Iran mengklaim telah menutup selat tersebut, aktivitas pelayaran ternyata tetap berlangsung. Sejumlah supertanker masih terdeteksi memasuki kawasan Selat Hormuz dan melanjutkan perjalanan menuju Teluk Oman melalui jalur pelayaran di sisi selatan yang berada dekat perairan Oman.
Pergerakan kapal-kapal tersebut memperkuat klaim militer Amerika Serikat bahwa mereka masih mampu menjamin keamanan jalur pelayaran alternatif yang digunakan kapal-kapal komersial internasional.
Situasi semakin rumit akibat munculnya pernyataan yang saling bertentangan dari pejabat Iran. Komandan IRGC, , sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya bagi kapal komersial. Namun, pernyataan berikutnya menyebutkan bahwa kapal non-musuh masih dapat melintas dengan izin tertentu.
Perbedaan pesan tersebut menimbulkan kebingungan di kalangan operator kapal, perusahaan asuransi, dan pelaku pasar energi global yang sangat bergantung pada kepastian keamanan jalur pelayaran tersebut.
Ranjau dan Risiko Keamanan
Selain persoalan politik, tantangan fisik juga masih menghambat pemulihan penuh aktivitas pelayaran.
Laporan keamanan maritim menyebutkan puluhan ranjau masih berada di beberapa titik jalur utama Selat Hormuz. Keberadaan ranjau tersebut memerlukan operasi pembersihan yang kompleks sebelum lalu lintas kapal dapat kembali normal sepenuhnya.
Iran juga disebut mempertimbangkan penerapan biaya maritim bagi kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut. Wacana tersebut memicu kontroversi karena dinilai bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi yang diakui dalam hukum internasional.
Dampak terhadap Pasar Energi Global
Ketidakpastian di Selat Hormuz terus menjadi perhatian utama pasar energi dunia. Setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi harga minyak global, biaya pengiriman, serta stabilitas pasokan energi bagi berbagai negara importir.
Persaingan narasi antara Washington dan Teheran mengenai status keamanan Selat Hormuz juga menciptakan tantangan tersendiri bagi pelaku industri yang harus mengambil keputusan operasional berdasarkan informasi yang terus berubah.
Di satu sisi, Amerika Serikat menegaskan mampu menjaga keamanan jalur pelayaran di dekat pantai Oman. Di sisi lain, Iran menyatakan memiliki kendali atas koridor pelayaran di wilayah utara selat dan berhak menentukan aturan lintas kapal di kawasan tersebut.
Selama perbedaan tersebut belum menemukan titik temu, Selat Hormuz diperkirakan akan tetap menjadi pusat ketegangan geopolitik global sekaligus sumber ketidakpastian bagi pasar energi internasional.
Pemulihan penuh lalu lintas kapal tanker dan perdagangan minyak dunia akan sangat bergantung pada keberhasilan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, pembersihan ranjau laut, serta terciptanya mekanisme keamanan yang dapat diterima oleh seluruh pihak yang berkepentingan.
