Kebakaran Hutan di Siberia Meluas Empat Kali Lipat dalam Empat Hari, Asap Tebal Selimuti Kota dan Ganggu Aktivitas Warga

0
IMG-20260620-WA0064

MOSKOW – Kebakaran hutan besar yang melanda kawasan Siberia, Rusia, terus menunjukkan eskalasi mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu hanya empat hari, luas area yang terbakar melonjak hampir empat kali lipat, memicu krisis lingkungan dan kesehatan bagi ribuan warga yang terdampak.

Data otoritas kehutanan Rusia mencatat luas wilayah yang terbakar meningkat dari 16.656 hektare pada 13 Juni 2026 menjadi 62.600 hektare pada 17 Juni 2026. Sementara itu, di wilayah utara Krasnoyarsk, total area terdampak dilaporkan telah melampaui 133.000 hektare dengan sedikitnya 93 titik kebakaran aktif yang masih berkobar.

Asap tebal yang dihasilkan kebakaran menyelimuti sejumlah kota di Siberia, termasuk Lesosibirsk dan Yeniseysk yang memiliki populasi gabungan sekitar 80.000 jiwa. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara memburuk drastis dan mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.

Laporan media lokal menyebutkan banyak warga mulai mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap berkepanjangan. Seorang warga bahkan terlihat berjalan bersama anjing peliharaannya dengan mengenakan masker gas sebagai upaya melindungi diri dari udara yang tercemar.

“Menjadi semakin sulit untuk bernapas, bahkan di dalam apartemen kami sendiri,” tulis laporan dari sebuah kanal Telegram lokal yang menggambarkan situasi darurat di Lesosibirsk.

Indeks kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak telah berada pada kategori tidak sehat, meningkatkan risiko kesehatan terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Ribuan Personel dan Armada Udara Dikerahkan

Pemerintah Rusia merespons situasi tersebut dengan mengerahkan operasi pemadaman besar-besaran. Lebih dari 1.400 personel pemadam kebakaran diterjunkan ke lapangan, didukung sekitar 50 unit alat berat dan hampir 30 pesawat pemadam.

Selain itu, lebih dari 350 personel tambahan dikirim dari Republik Buryatia dan Wilayah Zabaikalsky guna memperkuat upaya pengendalian api yang terus meluas.

Pada 15 Juni, Dinas Perlindungan Hutan dan Pertahanan Udara Rusia mengumumkan penggunaan metode peledakan terkendali untuk menciptakan sekat bakar dalam upaya menghentikan laju penyebaran tiga kebakaran besar di wilayah barat laut Krasnoyarsk.

Otoritas setempat menyebut medan yang terpencil dan sulit dijangkau menjadi tantangan utama dalam operasi pemadaman. Kondisi cuaca juga memperburuk situasi setelah serangkaian badai petir dan sambaran petir memicu munculnya titik-titik api baru di berbagai lokasi.

Dampak Perubahan Iklim Semakin Nyata

Para ahli lingkungan menilai kebakaran besar yang terjadi di Siberia merupakan salah satu indikator nyata dampak perubahan iklim di kawasan Arktik.

Suhu udara di sejumlah wilayah dilaporkan berada 8 hingga 10 derajat Celsius di atas rata-rata normal. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang lebih kering dan sangat rentan terhadap kebakaran berskala besar.

Faktor lain yang memperparah penyebaran api adalah serangan hama ulat sutra Siberia yang telah mematikan banyak pohon di kawasan hutan boreal. Pohon-pohon mati tersebut berubah menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar ketika suhu meningkat.

Selain menghanguskan jutaan hektare hutan, kebakaran Siberia juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pencairan lapisan es abadi (permafrost) dan lahan gambut yang selama ribuan tahun menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika lapisan tersebut mencair atau terbakar, emisi karbon yang dilepaskan dapat mempercepat laju pemanasan global.

Abu hasil kebakaran juga berpotensi menutupi permukaan salju dan es di kawasan Arktik, membuatnya lebih gelap sehingga menyerap lebih banyak panas matahari. Fenomena ini dapat mempercepat pencairan es dan memperburuk krisis iklim global.

Ancaman yang Tidak Lagi Bersifat Lokal

Meluasnya kebakaran hutan di Siberia pada 2026 menjadi peringatan serius bagi dunia internasional. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika tren kenaikan suhu global dan musim kering ekstrem terus berlanjut, kebakaran serupa diperkirakan akan terjadi lebih sering, lebih luas, dan lebih sulit dikendalikan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebakaran Siberia bukan lagi sekadar masalah regional Rusia, melainkan ancaman global yang berdampak terhadap stabilitas iklim dunia melalui pelepasan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar dan percepatan pemanasan bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *