Diam dari Politik Bukan Jalan Keluar: Ketika Orang Baik Tidak Peduli, Kekuasaan Bisa Jatuh ke Tangan yang Salah
AWNI – Di tengah meningkatnya rasa kecewa masyarakat terhadap dunia politik, tidak sedikit orang memilih menjauh dan bersikap apatis. Politik dianggap terlalu kotor, penuh kepentingan, sarat kebohongan, dan dianggap tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan pribadi. Banyak yang merasa hidup akan lebih tenang jika tidak ikut memikirkan urusan kekuasaan.
Namun kenyataannya, politik justru mengatur hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Harga kebutuhan pokok, kualitas pendidikan, lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan, hukum, pajak, hingga rasa keadilan yang dirasakan masyarakat setiap hari, semuanya lahir dari keputusan politik. Artinya, ketika seseorang berkata tidak peduli terhadap politik, sesungguhnya ia tetap akan menerima dampak dari politik itu sendiri ,baik disadari maupun tidak.
Masalah terbesar muncul ketika orang-orang yang memiliki moral, akal sehat, dan kepedulian memilih diam. Sebab ruang kekuasaan tidak pernah kosong. Ketika masyarakat baik menjauh, posisi tersebut tetap akan diisi oleh mereka yang memiliki ambisi besar untuk menguasai, meskipun belum tentu memiliki integritas atau kepedulian terhadap rakyat.
Dari titik itulah penyalahgunaan kekuasaan sering tumbuh.
Kekuasaan yang tidak diawasi cenderung berjalan tanpa kontrol. Ketika rakyat tidak kritis, tidak peduli, dan enggan mengawasi jalannya pemerintahan, maka kebijakan yang merugikan masyarakat bisa berlangsung terus-menerus tanpa perlawanan berarti.
Sejarah di berbagai negara menunjukkan bahwa kerusakan sosial, ketimpangan hukum, hingga praktik korupsi sering kali bukan hanya lahir karena banyaknya orang jahat, tetapi juga karena terlalu banyak orang baik memilih diam.
Padahal kepedulian terhadap politik tidak selalu berarti harus menjadi politisi atau terlibat dalam perebutan kekuasaan.
