Satpam Waduk Jatiluhur Ditemukan Tewas dengan Mulut Dilakban dan Tangan Terborgol, Polisi Selidiki Kasusnya
PURWAKARTA — Kasus meninggalnya seorang petugas keamanan atau satpam yang bertugas di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan mulut dilakban dan kedua tangan diborgol ke belakang.
Korban diketahui merupakan seorang satpam yang selama ini bertugas menjaga kawasan Waduk Jatiluhur. Berdasarkan informasi yang beredar, korban dikenal sebagai petugas yang menjalankan tugasnya secara profesional dan aktif menjaga keamanan serta ketertiban di wilayah kerjanya.
Sehari sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat mengunggah informasi mengenai aksi vandalisme di kawasan tempatnya bertugas. Dalam unggahan tersebut terlihat adanya coretan, gambar tidak senonoh, serta tulisan yang dinilai tidak pantas.
Korban diduga berupaya menegur aktivitas sejumlah pemuda yang kerap berkumpul di kawasan waduk. Rekaman video yang sempat diunggah korban kemudian menjadi salah satu informasi yang turut diperhatikan dalam proses penyelidikan.
Dalam video tersebut terdapat tulisan “RPM” yang kemudian dikaitkan oleh sejumlah pihak dengan kelompok motor tertentu. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih menjadi bagian dari penyelidikan aparat kepolisian. Tidak ada kesimpulan mengenai identitas pelaku maupun motif pembunuhan sebelum proses hukum memberikan kepastian.
Peristiwa bermula ketika sekitar pukul 03.00 WIB rekan korban mulai kehilangan kontak dengannya. Merasa khawatir terjadi sesuatu, kepala satuan pengamanan bersama sejumlah rekan kemudian melakukan pencarian.
Setelah pencarian berlangsung selama beberapa jam, sekitar pukul 11.00 WIB korban akhirnya ditemukan mengapung di kawasan waduk. Kondisinya sangat memprihatinkan. Mulut korban dilakban, sementara kedua tangannya dalam keadaan diborgol ke belakang.
Hal yang semakin menyayat hati, korban disebut masih mengenakan seragam satpam lengkap beserta sepatu ketika ditemukan. Kondisi tersebut memperkuat gambaran bahwa korban diduga sedang menjalankan tugas ketika peristiwa tragis itu terjadi.
Sosok korban juga dikenal sebagai petugas yang serius menjalankan tanggung jawabnya. Ia tidak sekadar menjaga fasilitas dari pos keamanan, tetapi berupaya menegur tindakan yang dianggap mengganggu ketertiban dan merusak fasilitas umum.
Kasus ini pun memunculkan keprihatinan luas mengenai keselamatan petugas keamanan maupun masyarakat yang berupaya menjaga ketertiban di lingkungan sekitar. Tindakan menegur perilaku yang melanggar aturan seharusnya tidak berujung pada kekerasan atau hilangnya nyawa seseorang.
Masyarakat berharap aparat kepolisian dapat mengungkap kasus tersebut secara menyeluruh, menangkap pelaku, serta memastikan seluruh pihak yang terlibat diproses sesuai hukum yang berlaku.
Keluarga korban yang ditinggalkan juga diharapkan mendapatkan dukungan dan kekuatan dalam menghadapi musibah tersebut.
Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, diampuni segala kesalahannya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keberanian menjaga ketertiban harus mendapat perlindungan. Tidak boleh ada lagi seseorang kehilangan nyawa hanya karena menjalankan tugas dan berusaha menjaga lingkungan tetap aman.
