Pentagon Waspadai AI yang Dinilai Mampu Lakukan Peretasan Siber Lebih Cepat dari Manusia
AWNI — Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi perhatian serius Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), setelah teknologi tersebut dinilai berkembang sangat cepat dan berpotensi digunakan dalam serangan siber yang semakin canggih.
Kekhawatiran muncul karena sistem AI modern disebut mampu menganalisis celah keamanan digital, menyusun kode berbahaya, hingga melancarkan simulasi serangan siber dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan kemampuan manusia.
Sejumlah pengamat pertahanan menilai kondisi ini membuat ancaman di ruang digital memasuki fase baru, di mana kecerdasan buatan tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen utama dalam konflik siber.
AI Jadi Fokus Strategi Pertahanan Baru
Menanggapi perkembangan tersebut, Pentagon mulai mempercepat penguatan sistem pertahanan siber berbasis AI. Langkah ini dilakukan untuk menghadapi ancaman digital yang dinilai semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Pentagon juga dilaporkan menggandeng sejumlah perusahaan teknologi besar untuk memperkuat keamanan jaringan militer serta mengembangkan sistem deteksi ancaman otomatis yang mampu mengidentifikasi potensi serangan sebelum terjadi.
Pejabat pertahanan AS menyebut perkembangan AI sebagai bentuk “revolusi peperangan” yang dapat mengubah cara negara bertahan maupun menyerang di dunia maya.
Bentuk Satuan Khusus AI
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Pentagon membentuk satuan tugas khusus bernama Task Force Lima. Tim ini difokuskan pada kajian, pengembangan, serta penerapan AI generatif untuk kepentingan keamanan nasional.
Fokus utama satuan ini meliputi pemantauan ancaman siber, pengembangan sistem pertahanan digital, serta pemanfaatan AI untuk melindungi infrastruktur militer Amerika Serikat.
Langkah tersebut menandai bahwa persaingan teknologi global kini tidak hanya berfokus pada senjata konvensional, tetapi juga dominasi di ruang siber yang semakin kritis dan berisiko tinggi.
Sumber: Republika
