Menko Airlangga Dorong Industri Dalam Negeri Percepat Hilirisasi dan Swasembada Energi di P3DN Summit 2026
JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan kapabilitas industri dalam negeri sebagai langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi, memperkuat ketahanan energi, dan mewujudkan swasembada energi nasional.
Dorongan tersebut disampaikan Airlangga dalam acara Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Summit 2026 di Jakarta, Rabu (22/7). Pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan industrialisasi sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.
Menurut Airlangga, penguatan industri dalam negeri tidak hanya penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperluas akses energi, mempercepat transisi energi, sekaligus memperkuat kemandirian Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Salah satu instrumen utama yang didorong pemerintah adalah kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) melalui penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kebijakan tersebut dinilai semakin strategis karena dinamika geopolitik global berpotensi memengaruhi rantai pasok energi dan industri dunia.
Airlangga menilai ketidakpastian global yang terus berlangsung membuat Indonesia perlu memperkuat diversifikasi sumber energi. Menurutnya, Pertamina dan pelaku industri nasional harus memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai perubahan kondisi global dengan memanfaatkan kekuatan industri dalam negeri.
Hilirisasi dan Kemandirian Energi Jadi Prioritas
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga mengapresiasi implementasi B50 serta selesainya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Penguatan kapasitas pengolahan energi di dalam negeri dinilai menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk energi dari luar negeri.
Pemerintah juga tetap menjaga daya beli masyarakat dan keberpihakan terhadap sektor produktif melalui penyediaan energi bagi masyarakat. Salah satunya melalui kebijakan harga khusus Solar sebesar Rp15.000 per liter bagi armada kapal nelayan berukuran 30–200 GT.
Airlangga menegaskan bahwa energi merupakan infrastruktur fundamental yang menopang perekonomian nasional, baik bagi sektor industri maupun perkembangan digitalisasi.
Di tengah berbagai tantangan global, pemerintah juga mencatat perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia disebut tumbuh 5,61 persen secara tahunan, sementara inflasi tetap dijaga sesuai sasaran pemerintah.
Untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat daya saing industri, pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan fiskal, termasuk penurunan tarif bea masuk menjadi nol persen untuk sejumlah bahan baku petrokimia seperti LPG serta produk polipropilena dan polietilena dalam periode tertentu.
Belanja Produk Dalam Negeri Didorong Lebih Maksimal
Dalam agenda P3DN, Airlangga memberikan apresiasi terhadap target belanja produk dalam negeri Pertamina yang mencapai lebih dari Rp500 triliun. Namun, ia menilai masih terdapat peluang besar untuk meningkatkan penggunaan produk dan jasa industri nasional.
Besarnya belanja modal di sektor minyak dan gas serta petrokimia masih banyak terserap untuk produk permesinan, komponen elektrik, dan jasa rekayasa dari luar negeri. Karena itu, pemerintah mendorong sinergi antarkementerian dan lembaga untuk memperkuat kemampuan rekayasa industri nasional.
Airlangga meminta agar porsi Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dalam proyek-proyek strategis dapat semakin banyak dikerjakan oleh perusahaan dan tenaga ahli Indonesia.
Ia juga menyoroti proyek Andaman Project di lepas pantai Aceh. Pemerintah mendorong agar Aceh dapat menjadi laying down area sehingga manfaat ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan efek berganda dari proyek tersebut dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat dan industri lokal.
Menurut Airlangga, berbagai kebutuhan proyek seperti wellhead, valve, pressure vessel, hingga produk kimia sebenarnya telah memiliki potensi untuk diproduksi oleh industri dalam negeri. Pemanfaatan kapasitas tersebut dinilai dapat memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Indonesia Punya Peluang Besar Perkuat Industri Nasional
Airlangga menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing, mulai dari harga energi yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, hingga berkembangnya ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Keunggulan tersebut turut mendorong minat investasi ke Indonesia, termasuk di berbagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemerintah melihat momentum tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dalam beberapa tahun ke depan.
Airlangga menegaskan bahwa kemampuan engineering dan penguasaan barang modal atau capital goods menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu menjadi basis produksi dan pusat industri yang memiliki daya saing global.
P3DN Summit 2026 turut dihadiri Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Helvi Moraza, Komisaris PT Pertamina (Persero) Hasan Nasbi, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, serta sejumlah pejabat lainnya.
Melalui penguatan P3DN, peningkatan TKDN, hilirisasi, dan pengembangan kemampuan industri nasional, pemerintah berharap Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan strategisnya. Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mempercepat swasembada energi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan investasi, dan memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi global.
