Iran Kirim Menteri Dalam Negeri ke Pakistan untuk Bahas Mediasi Konflik dengan AS, Diplomasi Terus Berjalan
Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni melakukan kunjungan resmi ke Islamabad, Pakistan, pada pekan ketiga Juli 2026 di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Kunjungan selama tiga hari tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya diplomatik untuk menjaga jalur komunikasi dan mencari jalan keluar atas konflik yang kembali memanas setelah kesepahaman antara Teheran dan Washington mengalami kemunduran pada awal Juli.
Momeni tiba di Islamabad pada Senin (20/7) dan disambut Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi di Bandara Internasional Islamabad. Kunjungan tersebut menjadi perhatian karena Pakistan sebelumnya memainkan peran penting dalam mendorong komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat di tengah meningkatnya eskalasi di kawasan Timur Tengah.
Selama berada di Pakistan, Momeni menggelar sejumlah pertemuan dengan pejabat tinggi negara tersebut, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Field Marshal Syed Asim Munir. Pertemuan dengan Sharif berlangsung di Prime Minister House pada Selasa (21/7).
Dalam pertemuan tersebut, Shehbaz Sharif menegaskan bahwa Pakistan siap terus memainkan peran sebagai mediator yang jujur dan tulus dalam upaya meredakan ketegangan. Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi di kawasan Teluk dan menyerukan kepada seluruh pihak untuk menahan diri agar konflik tidak semakin meluas dan mengancam stabilitas regional.
Sharif juga mengenang kunjungannya ke Teheran pada awal Juli untuk menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran yang disebut dalam laporan tersebut sebagai Ayatollah Sayyid Ali Khamenei. Dalam pertemuan itu, Momeni menyampaikan salam dan harapan baik dari Pemimpin Tertinggi Iran yang disebut sebagai Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei serta Presiden Masoud Pezeshkian.
Momeni turut menyampaikan apresiasi Iran terhadap upaya mediasi yang dilakukan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar, dan Panglima Angkatan Darat Syed Asim Munir. Upaya tersebut disebut berkontribusi dalam mendorong lahirnya Nota Kesepahaman Islamabad sebagai bagian dari usaha menjaga komunikasi dan meredakan ketegangan antara pihak-pihak yang terlibat.
Pertemuan antara Menteri Dalam Negeri Iran dan Pakistan pada Rabu (22/7) juga membahas berbagai persoalan bilateral serta keamanan regional. Mohsin Naqvi menyatakan Pakistan siap memperluas kerja sama dengan Iran di berbagai sektor sekaligus memperkuat mekanisme koordinasi agar kesepahaman politik dapat diterjemahkan menjadi kerja sama yang lebih efektif.
Dalam pertemuan tersebut, Iran dan Pakistan juga sepakat meningkatkan kerja sama dalam sejumlah isu keamanan, termasuk pemberantasan terorisme, penanggulangan peredaran narkotika, pencegahan imigrasi ilegal, serta pemberantasan perdagangan manusia.
Namun, di tengah spekulasi mengenai kemungkinan adanya pesan khusus terkait proposal perdamaian baru, Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Iran Ali Zeinivand menyatakan bahwa kunjungan Momeni tidak membawa pesan baru mengenai konflik Iran-Amerika Serikat. Menurutnya, posisi Iran masih sama, yakni menilai pihak lawan telah melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai dan harus mematuhinya.
Zeinivand juga menyatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat saat ini tidak sedang melakukan negosiasi langsung. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya pertukaran pesan melalui jalur tidak langsung atau perantara diplomatik.
Pakistan sendiri terus berupaya mempertahankan perannya sebagai mediator dalam konflik Iran-AS. Islamabad sebelumnya terlibat dalam upaya diplomatik yang menghasilkan kesepahaman antara kedua pihak pada Juni 2026. Namun, situasi kembali memburuk setelah serangkaian serangan dan ketegangan militer di kawasan.
Konflik semakin meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 8 Juli sebagai respons atas tindakan yang dikaitkan dengan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sehari kemudian, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepahaman gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara terus mendorong jalur diplomasi. Qatar, Mesir, dan Pakistan disebut mengajukan proposal gencatan senjata selama 10 hari kepada Amerika Serikat dan Iran. Para mediator juga disebut telah menyampaikan proposal tersebut kepada Teheran sebagai bagian dari upaya mengurangi eskalasi.
Meskipun konflik militer terus berlangsung, jalur komunikasi diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat belum sepenuhnya tertutup. Pertukaran pesan melalui negara-negara perantara menunjukkan bahwa masih terdapat ruang bagi upaya diplomasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.
Kunjungan Eskandar Momeni ke Pakistan pada akhirnya menjadi bagian penting dari diplomasi Iran dalam menjaga komunikasi dengan Islamabad. Bagi Pakistan, keterlibatan tersebut juga mempertegas posisi negara itu sebagai salah satu mediator yang berupaya menjembatani kepentingan pihak-pihak yang berkonflik.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kesediaan Iran dan Amerika Serikat untuk kembali membuka ruang dialog. Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, keberadaan jalur komunikasi melalui mediator seperti Pakistan, Qatar, dan Mesir menjadi semakin penting untuk mencegah eskalasi lebih jauh serta membuka peluang bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
