Rusia dan Korea Utara Kecam AS di Moskow, Lavrov: Kami Hentikan Dukungan Denuklirisasi

0
IMG-20260725-WA0009

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hui menggelar dialog strategis tingkat tiga di Moskow pada Senin (20/7). Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangkaian kunjungan Choe ke Rusia. Sebelumnya, ia juga bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Kremlin pada Minggu (19/7) untuk menyampaikan salam dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan, Rusia dan Korea Utara menilai kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi keamanan di Semenanjung Korea dan kawasan Asia Timur Laut. Kedua negara juga mengkritik peningkatan aktivitas militer di sekitar Semenanjung Korea yang dinilai Pyongyang sebagai bentuk tekanan terhadap Korea Utara.

Lavrov dan Choe menegaskan pentingnya penguatan hubungan strategis antara Federasi Rusia dan Republik Demokratik Rakyat Korea. Menurut kedua pihak, hubungan bilateral yang semakin erat dinilai berkontribusi terhadap keamanan regional dan internasional sekaligus mendukung gagasan tentang tatanan dunia multipolar.

Kedua negara juga sepakat melanjutkan pengembangan hubungan bilateral berdasarkan semangat Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang ditandatangani pada Juni 2024. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu fondasi utama dalam hubungan Moskow dan Pyongyang yang semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila, Lavrov juga menyatakan bahwa Rusia tidak lagi mendukung seruan denuklirisasi Semenanjung Korea. Perubahan sikap tersebut, menurut Lavrov, berkaitan dengan meningkatnya tekanan militer terhadap Korea Utara dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Lavrov menilai situasi saat ini membuat pembahasan mengenai denuklirisasi Korea Utara menjadi semakin sulit. Ia juga menyebut senjata nuklir sebagai bagian dari jaminan keamanan bagi Pyongyang. Meski demikian, Moskow tetap menyatakan dukungannya terhadap penyelesaian politik dan diplomatik untuk menjaga stabilitas di Semenanjung Korea.

Pertemuan Rusia dan Korea Utara berlangsung di tengah semakin dalamnya kerja sama politik dan militer antara kedua negara. Hubungan tersebut semakin menguat sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina. Korea Utara disebut telah memberikan dukungan berupa amunisi dan personel kepada Rusia, termasuk dalam operasi militer di wilayah Kursk.

Dalam pertemuan di Moskow, Lavrov juga memberikan penghargaan terhadap peran tentara Korea Utara yang disebutnya telah membantu pasukan Rusia dalam merebut kembali wilayah Kursk. Ia menyatakan Moskow tidak akan melupakan keberanian dan pengorbanan para prajurit Korea Utara.

Hubungan Rusia dan Korea Utara semakin erat setelah penandatanganan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif pada Juni 2024 yang mencakup klausul pertahanan bersama. Presiden Vladimir Putin kemudian melakukan kunjungan ke Pyongyang pada Juni 2024, sementara Kim Jong-un sebelumnya mengunjungi Rusia pada September 2023.

Korea Utara juga terus menyatakan dukungan terhadap posisi Rusia dalam konflik Ukraina. Pyongyang mendukung narasi Moskow mengenai perlunya mengatasi apa yang disebut Rusia sebagai akar penyebab konflik serta mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya.

Perubahan sikap Rusia terhadap isu denuklirisasi Korea Utara dan kecaman bersama terhadap kebijakan Amerika Serikat menunjukkan semakin kuatnya koordinasi Moskow dan Pyongyang. Perkembangan ini berpotensi memengaruhi dinamika keamanan di Asia Timur Laut serta memperumit upaya diplomatik untuk mendorong stabilitas dan pengendalian senjata nuklir di kawasan.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, hubungan Rusia-Korea Utara menjadi perhatian serius Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara lain di kawasan. Penguatan kemitraan Moskow-Pyongyang dinilai dapat mengubah kalkulasi keamanan regional dan mendorong negara-negara terkait untuk memperkuat kerja sama pertahanan serta diplomasi guna menghadapi perubahan keseimbangan kekuatan di Asia Timur Laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *